“Kau pulang telat, ada pelajaran tambahan ya?
Nenek menyapaku saat aku baru pulang dari sekolah. Aku meneruskan langkahku sambil menundukkan wajah tanpa menjawab tanyanya. Kemudian aku duduk pada anak tangga kedua pada tangga mini teras rumahku. Tangga mini yang hanya memiliki 3 buah anak tangga. Sambil menghela nafas sedikit, perlahan ku lepaskan ikatan sepatu yang ku kenakan. Terlihat ia nampak kotor, padahal baru sabtu kemarin nenek mencucikannya untukku.
Nenek hanya tersenyum melihat tingkahku, kemudian masuk ke rumah menyiapkan makan siangku. Seharusnya aku pulang jam 13.30 seperti biasanya. Namun, hari ini aku tiba di rumah pukul 14.30, nenek pasti menyangka bahwa ada pelajaran tambahan di sekolah. Nenek pasti sedang menghagatkan makanan. Aku memang tidak suka makanan yang sudah dingin, dan nenek paling tahu seleraku.
Kesalku masih belum juga hilang. Selepas sekolah tadi, Anton salah satu siswa di sekolahku, SMPN 87 Akajeng, menghajarku hingga pipiku terlihat sedikit gendut. Anton memiliki tubuh yang besar dibanding siswa lain, dia menjadi jagoan di sekolah. Tidak seorang siswa pun yang berani kepadanya. Dia sering memalak siswa-siswa lain, termasuk diriku. Setiap siswa yang menolak keinginannya akan dihajarnya.
Pelajaran matematika pada jam pelajaran akhir tadi pasti yang membuatnya kesal sehingga harus menghajarku. Anton mendapat tugas oleh Pak Heru untuk mengerjakan soal No. 3 Bab 4 buku Matematika terbitan Erlangga. Karena tidak sanggup mengerjakan, Pak Heru meminta siswa lain untuk mengerjakan.
Kira-kira 30 detik berselang, tak seorang siswa pun yang bersedia untuk mengerjakannya. Kemudian aku mengajukan diri untuk mencobanya. Aku menjawab dengan benar. Pak Heru lalu menyanjungku dan menasehati Anton untuk mencontoh diriku. Sedari tadi memang pak Heru memerhatikan Anton yang tidak memperhatikan pelajarannya.
***
Nenek menambahkan nasi, dan perkedel kentang kedalam piringku, seperti kemarin dan kemarinnya lagi, dia akan berkata kepadaku untuk makan yang banyak. Biasanya aku mengomel kepada nenek karena menambahkan nasi yang terlalu banyak ke dalam piringku, namun kali ini aku tetap diam dan meneruskan makanku. Usai menyelesaikan makanku, nenek berbicara dengan halus kepadaku. Menanyakan tentang pipiku yang menggendut.
“Ada apa dengan pipimu? Apakah kamu terjatuh?”
Aku hanya terdiam, mencoba untuk menutupi peristiwa yang baru saja kualami siang tadi. Tapi nenek terus membujukku untuk mengatakannya. Harus ku akui nenek memang hebat dalam hal itu, sehingga terasa nyaman jika berbicara kepadanya.
“Hari ini saya dipukuli Anton, nek!”
“Apakah kau berbuat salah kepadanya?”
“Tidak, nek. Mungkin karena pelajaran matematika tadi.”
Aku menceritakan tentang pelajaran matematika tadi, dimana pak Heru memberikan soal yang tidak dapat dikerjakan Anton. Nenek mendengarkan ceritaku dan menyimaknya dengan baik dengan sedikit senyuman melihat tingkahku yang bercerita secara blak-blakan dengan sedikit emosi.
“Aku akan membalasnya, nek. Aku pastikan besok dia akan mendapatkan pukulan yang lebih sakit dari yang saya rasakan”
“Jangan. Jangan kau lakukan itu. Kau bukan anak nakal seperti Anton. Jika kau menghajarnya, kau sama saja dengan Anton, kau bukan anak nakal sepertinya. Kau adalah cucuku yang baik.”
Nenek terus menasehatiku untuk tidak melakukan perbuatan yang sama dengan yang Anton lakukan kepadaku. Walau berat hati, terpaksa aku menuruti permintaan nenek. Namun, aku masih tetap kesal pada Anton.
***
Butuh 20 tahun bagiku untuk memahami perkataan nenek. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran 7 tahun yang lalu, kini aku bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta. Tiga kurcaci cilik telah membuat gaduh rumahku yang mungil di kawasan selatan Jakarta. Aku sangat bahagia dengan hidupku saat ini.
Lalu apa yang terjadi dengan Jagoan itu?
Selepas SMP, Anton kemudian menjadi jagoan lagi di SMA. Sejak lulus SMA aku tak lagi mendengar kabarnya hingga berita di TV pagi tadi. Seorang residivis curanmor bernama ANTON DWI HANDOKO RIEMOOH (nama yang aneh
karanganku, hehee) dibekuk aparat polisi saat sedang menjalankan aksinya. Nama yang tidak asing bagiku.
NB: Cerita diangkat dari buku kartun (komik) yang ku baca beberapa hari yang lalu di toko buku. Ceritanya sedikit dimodifikasi sesuai kebutuhan, soalnya baca bukunya juga sepintas. Bukunya tidak saya beli, soalnya bisa dibaca ditempat, hehehee.
Judul bukunya lupa, tapi yang nulis orang korea, KIM siapa ya? Lupa juga.

